shape

Bedanya Communicable Disease dengan Non-Communicable Disease

20 August 2021

Posted by : Admin

Facebook Share Whatsapp Share Twitter Share Telegram Share

Bedanya Communicable Disease dengan Non-Communicable Disease

Source from microbenotes.com

Apa perbedaan kontras communicable disease dengan non-communicable disease? Jawabannya singkat: kata non yang menghiasi di antaranya. Terdengar lucu tapi terminologi non di sini memiliki seribu arti. Non-communicable disease atau penyakit ‘tidak’ menular, merupakan penyakit yang memang tidak bisa ditularkan ke orang lain karena tidak ada media penularannya. Tidak ada mikroba pathogen yang menyebabkan seseorang terkena non-communicable disease atau bahkan menjadi agen penularannya. Lalu? Apa yang menyebabkannya?

Baca Juga Mengenal Lebih Dekat Communicable Disease

Pada artikel sebelumnya telah dibahas detail communicable disease dan istilah penyakit yang maknanya meluas dalam kosakata medis. Pada non-communicable disease, perkembangan penyakitnya lama (kronis), tersembunyi, berkepanjangan, dan umumnya ketika akhirnya penyakit termanifestasikan berarti periode penyakit telah sampai pada tahap tidak dapat disembuhkan. Jadi kalau non-communicable disease tidak ada agen penularannya, bagaimana caranya penyakit berkembang? Jawabannya adalah lewat kombinasi gaya hidup, paparan lingkungan, dan internal. Langsung saja yang termasuk non-communicable disease di antaranya penyakit kardiovaskular, kanker, paru-paru kronis, diabetes, kelainan saraf kronis, dan kelainan muskuloskeletal. Beberapa faktor yang menjadi sumber perkembangan non-communicable disease yakni tekanan darah tinggi, obesitas, asap rokok, glukosa dalam darah tinggi, defisit aktivitas fisik, kolesterol tinggi, konsumsi alkohol, dsb. Sudah terjawab kan mengapa penyakit ini tidak bisa ditularkan?

Tidak sama dengan communicable disease dimana penderitanya dapat ditolong dengan obat-obatan, non-communicable disease tidak bisa. Ada beberapa obat yang mekanismenya dapat menekan laju perkembangan penyakit. Hanya saja, ibarat virus HIV yang obat pun tidak bisa menuntaskan jumlah virus dalam tubuh, demikian pula kerja obat pada non-communicable disease. Kita ambil satu contoh obat penurun kolesterol dengan merek dagang simvastatin. Masyarakat awam mengonsumsi obat ini bila kadar kolesterol dalam darah terdeteksi tinggi. Sayangnya orang-orang mengonsumsi ini tanpa tahu mekanisme asli obatnya. Sederhananya, simvastatin bekerja menurunkan kadar kolesterol ‘total’ dengan meningkatkan laju transportasi LDL dalam darah. Seperti telah diketahui kalau LDL merupakan lemak jahat yang kalau dibiarkan mengendap di dinding pembuluh darah akan menempel permanen hingga suatu saat bisa menyumbat pembuluh darah. Apakah simvastatin dapat membersihkan LDL yang sudah terlanjur menempel dan menjadi kerak di dinding pembuluh darah? Tidak juga. Kita tidak tahu berapa LDL yang lolos dan mengerak hingga di kemudian hari tiba-tiba saja terjadi serangan jantung. Perkembangan penyakit kardiovaskular tersebut tidak sebentar. Memakan waktu belasan hingga puluhan tahun dan sama sekali tidak memunculkan gejala apa pun selain sedikit tanda kolesterol tinggi saat tes darah. Berbeda nyata dengan communicable disease yang saat kalian terjangkit bakteri atau virus seketika memunculkan gejala yang membuat kalian tampak tidak sehat.

Metode pencegahan penyakit ini lumrahnya dengan menjaga pola hidup sehat. Faktor lingkungan serta gaya hidup sehat adalah faktor yang dapat kita kendalikan. Dengan beberapa macam tindakan kita bisa menginterverensi peluang kita terjangkit non-communicable disease. Rutin olahraga, tidak merokok atau menjauhi orang yang sedang merokok, menghindari konsumsi alkohol, dan makanlah makanan dengan gizi seimbang merupakan tindakan pencegahan yang dianjurkan WHO. Di lain sisi, ada faktor internal yang tidak bisa kita kendalikan, meliputi gen, usia, jenis kelamin, dan ras. Cara mengatasi faktor internal ini adalah dengan kembali lagi ke tindakan yang di atas. Kita tidak mengendalikan hal tersebut, sehingga gaya hidup sehat adalah satu-satunya cara mencegahnya. Dan terkhir mengenai genetik, tanpa disadari setiap orang memiliki risiko terhadap suatu penyakit tercetak dari DNA-nya. Tapi tenang, tidak perlu cemas. Gen ini tidak akan menjadi aktif membantu kamu terkena non-communicable disease bila kamu melakukan gaya hidup sehat. Gen itu akan hibernasi selama kamu tidak memicunya untuk berekspresi!

Apabila Sobat Salam ingin bisa bertanya seputar kesehatan, bisa melalui layanan konsultasi kesehatan kami.

Sumber: alodokter.com || cdc.gov || halodoc.com || alomedika.com || Roth, et al. 2011. High Total Serum Cholesterol, Medication Coverage and Therapeutic Control: An Analysis of National Health Examination Survey Data from Eight Countries. Diakses dari scielosp.org.

shape
shape