shape

Daging vs Ikan

19 August 2021

Posted by : Admin

Facebook Share Whatsapp Share Twitter Share Telegram Share

Daging vs Ikan

Photo by Woop.id

Kalau disuruh memilih, orang Indonesia cenderung ke kubu daging dibandingkan ikan. Apalagi anak-anak. Tidak dipungkiri kalau dari segi aroma, rasa, dan kemudahannya, daging memang lebih menggiurkan. Ketika kita makan daging pun, kita tidak perlu pusing memikirkan bau amis atau duri-durinya. Dari sebuah studi yang mengerjakan suatu survei di Yogyakarta mengenai minat konsumsi ikan pada usia 18-35 tahun dimana 350 responden dipilih secara acak, diketahui kalau hanya 10.86% laki-laki responden yang mengonsumsi ikan tiga kali seminggu, sementara pada wanita 7.14% responden.  Ironisnya, kita sebagai orang Indonesia tinggal di kepulauan yang dikelilingi SDA laut berlimpah. Namun, dari survei tersebut anggapan mengenai daging lebih prestige dibandingkan ikan sangatlah miris. Benarkah demikian?

  Daging Ikan
Protein 30.37 g 23.3 g
Kolesterol 89 mg 38 mg
Besi 3.36 mg 1.02 mg
Omega-3 65 mg 240 mg

Kandungan gizi daging merah maupun putih telah dibahas pada artikel sebelumnya. Kali ini akan dibahas lebih mendalam mengenai apa saja nutrisi yang terkandung pada ikan yang menyebabkan konsumsi ikan tidak bisa disubtitusi dengan konsumsi daging. Berikut tabel nilai gizi per 100 g daging merah sirloin dan ikan tuna versi ensiklopedia Britannica.

Baca Juga Daging Merah vs Daging Putih

Beberapa orang mulai menyadari kalau salah satu keunggulan nilai gizi ikan adalah omega-3. Ibu muda yang kritis mulai beralih mengonsumsi ikan atau susu demi buah hatinya. Memangnya ada apa dengan omega-3? Berita mengenai omega-3 sangat menyehatkan bukanlah suatu wacana belaka. Bagi anak-anak yang sedang dalam masa pertumbuhan, omega-3 esensial untuk perkembangan otak dan mata. Di kemudian hari pun, anak-anak yang rutin mengonsumsi omega-3 memiliki fungsi otak yang lebih baik dan tahan lama, menghindarkan terkena alzheimer di usia tua mereka. Untuk orang-orang dewasa, omega-3 kaya akan HDL. HDL memperbaiki LDL yang mengerak di dinding pembuluh darah, menyebabkan penurunan signifikan terhadap kadar lemak jenuh atau LDL dalam darah. Akibatnya, risiko terkena jantung koroner, serangan jantung, atau gangguan tekanan darah bisa diminimalisir. Ada sebuah riset lain menyatakan kalau konsumsi omega-3 berkaitan dengan diabetes tipe 2. Omega-3 memperbaiki sensitifitas insulin pada pasien diabetes 2.

Konsumsi segala sesuatu dengan seimbang. Sebagaimana anjuran dari American Heart Association kalau dalam seminggu makan daging merah tidak lebih dari dua kali seminggu, sementara konsumsi ikan minimal dua kali seminggu. Instansi tersebut tidak menyarankan kita untuk sama sekali tidak mengonsumsi daging baik merah maupun putih. Karena seperti tampak pada tabel, tubuh kita juga memerlukan nutrisi lain selain omega-3, salah satunya besi. Hanya satu hal yang harus diperhatikan. Sebagus apa pun nilai gizi suatu makanan, selama cara pengolahannya tidak benar, tetap tidak berguna buat tubuh. Malahan ada yang jadi senjata makan tuan. Cara memasak seperti menggoreng atau membakar tidak direkomendasikan bukan hanya pada daging merah, ikan pun demikian. Pemasakan pada suhu tinggi selain menyebabkan karsinogen juga merusakkan nilai gizi yang unggul pada bahan makanan tersebut. Perlu diketahui kalau lemak tidak jenuh sensitif terhadap suhu panas. Percuma kalian mengonsumsi makanan dengan omega-3 setinggi apa pun kalau ujung-ujungnya rusak karena pemanasan. Maka dari itu, mulai sekarang perhatikanlah cara kalian mengolah makanan.

Sumber: healtline.com || Annual Review of Food Science and Technology: Omega-3 Polyunsaturated Fatty Acids and their Health Benefits. Annualreviews.org || Pratisti, C. 2020. Model Konsumsi Ikan pada Konsumen Muda || hellosehat.com || britannica.com || healthline.com || nationalgeographic.grid.id

shape
shape